Lokasi pemotretan: CIFOR, BOGOR
Tanggal: 17 November 2007
Urutan waktu:
04.00 Berangkat dari Bintaro (perjuangan keras, mana si abang berangkat dari SERPONG jam 3.00 pagi)
06.30 Tiba di Bogor (hotel)
08.15 Sampai di CIFOR
10.00 Selesai foto-foto
11.00 Siap kembali ke Serpong
13.00 Tiba di Serpong
Thanks To: Mas Inoe (Ismurtyanto) – Fotografer
Thanks To: Mbak Yani (Raiyani) – Fotografer
Sebenarnya, foto prewed ini tidak direncanakan sebelumnya. Berawal dari pertanyaan kecil di email yang kutujukan kepada mas Inoe “Mas, apaan sih gunanya foto prewed itu?”, karena setahuku foto prewed itu menyita waktu dan uang saja, he.
Mas Inoe membalas pertanyaan itu dengan antusiasme tinggi:
Begini ceritanya…
Dulu foto pre-wedding biasa disiapkan untuk pembuatan kartu undangan, supaya orang yang diundang kenal wajah kedua calon mempelai (Ooh, itu toh tujuannya). Dalam perkembangannya, karena biasanya foto untuk undangan ‘kan nggak cuma sekali, nah foto-foto bagus yang tidak terpakai untuk undangan lalu diperbesar dan dibingkai untuk hiasan di kamar pengantin. Kemudian berkembang lagi, foto-foto yang besar diperbanyak untuk dipasang di gedung resepsi pernikahan, supaya tamu undangan yang datang nggak salah masuk lokasi resepsi. Foto-foto yang lain disimpan di album kenangan untuk diurutkan dengan momen pernikahan. (Ngerti deh sekarang)
Sekarang kan banyak orang punya situs pribadi, nah pre-wedding dan wedding fotografi selalu jadi materi yang menarik untuk ditampilkan di situ (Ini dia bagian yang membuatku sangat tertarik). Paling tidak untuk undangan yang nggak bisa dateng karena tinggal jauh (kan pernikahanku jauh banget dari kediaman sekarang). Mungkin dari situ bisa kelihatan bedanya sebelum nikah dengan sesudah nikah ya, hihihi…
Dari situlah muncul kebutuhan akan foto pranikah, atau pre-wedding. Foto pre-wedding kan dibuat secara santai dan lebih bebas. Momen yang diambil juga nggak se-sakral upacara pernikahan yang susah diulang. Foto pre-wed bisa dikreasi lebih lanjut sesuai kompromi bersama…
Kayaknya jaman sekarang pre-wed udah jadi kebutuhan.
Saranku, untuk foto pre-wedding, lebih baik dengan fotografer yang sudah kenal karena biasanya pemotretan dalam suasana yang akrab dan santai memudahkan kedua pihak untuk bekerja sama, terutama masalah calon mempelai pria. Aku beberapa kali ikut temenku motret pre-wed di Palembang, selalu cowoknya yang jadi masalah mati gaya hehehe… Itu bahaya lho, kasian ceweknya udah luwes, eh si cowoknya kaku banget. Nah, kalau yang motret sudah kenal ‘kan enjoy. Pilihan tema dan gaya juga bisa diomongin bareng, gimana?
Duh, gimana nggak tertarik, meskipun undangan sudah dicetak tapi tetap saja, aku pengen banget. Nggak perlu untuk undangan deh, buat kenang-kenangan saja.
Aku mulai gencar menanyakan si Abang apakah dia tertarik. Dengan memaparkan semua fakta yang telah diberitahu mas Inoe. Hmmm… reaksinya positif banget.
Menjelang Hari-H Pengambilan Foto Prewedding
Bayangan tentang pengambilan foto ini terlalu sempurna untuk diwujudkan. Pertama kami janjian dengan Mas Inoe harus mundur seminggu karena Mas Inoe ujian ditambah juga aku punya acara penting keluarga yang tidak bisa ditiadakan. Minggu berikutnya, kami juga tetap sulit mengatur acara, beberapa anggota keluarga mengajak kami untuk berbelanja bersama. Untunglah, nggak jadi.
Tapi bertepatan dengan hari perjanjian kami, terjadi banyak tantangan di luar dugaan. Ada pemilihan ketua ikatan alumni ITB (si calon pengantin pria tidak bisa membatalkan keterlibatannya), ada acara syukuran 7 bulanan Deasy adek kami sehingga kami jadi serba salah. Tetapi karena janji foto ini sudah jauh hari, kami pun menjatuhkan pilihan tetap ikut foto.
Berangkat pagi sekali dari Bintaro, sementara si Abang lebih pagi lagi dari Serpong untuk menjemputku, padahal semalaman kami berburu baju tanpa melihat label harga saking buru-burunya. Tentu saja kami lelah setengah mati. Kami pulang dari Bogor menaiki motor ke arah Serpong dengan kecepatan tinggi, syukurlah pemilihan ketua ikatan alumni ITB belum selesai di Serpong.

Terima kasih buat mas Inoe yang udah jauh-jauh datang dari Palembang untuk memfoto kami. Kapan lagi gitu loh bisa menyuruh Kasi (Kepala Seksi) memfoto pre-wedding? hihihi… Terima kasih juga udah mengenalkan mbak Yani. Pengorbananmu sungguh tiada tara sampai-sampai kami bingung mau bilang apa. Intinya sih pengen bilang “Aduh, senang banget deh…”
Terima kasih juga buat mbak Yani. Fotonya bagus-bagus Mbak, mampu menyembunyikan wajah kami yang tak seberapa. Kami bisa berpose bagus juga ‘kan karena arahan mbak yang bisa membuat kami santai. Baca lanjutannya »
Recent Comments