Laporan Pandangan Mata

Journey Add comments

Pernikahan itu indah, benarkah?

Irene: Pagi buta, kami harus bersiap. Jam 4 teng harus sudah berada di salon dan berhadapan dengan Kila (sebutan orang karo untuk suami dari saudara perempuan ayah) yang begitu ahli memegang alat-alat salonnya. Kantuk sulit dihindari, selama make-up aku setengah tidur. Dan ketika membuka mata, jreeeeeng, “Ya ampun, siapa tuh?”. Aku tidak mengenal diriku sendiri. Owh, I hate this make-up.

Daniel: ngantuk banget… tidur jam 11 bangun jam 4 pagi, padahal stamina dibutuhkan buat seharian penuh… habis bangun langsung ke salon bersama Kak Irma dan Mamak… dan wajah kecewa pun tak sanggup disembunyikan si Mamak… karena aku berjanji bahwa anak buah si Kila ada 6 orang, ternyata cuma 2 orang, dan yang satu pun sudah dibangunkan 3 kali baru datang.

Entah ini atau bukan yang menyebabkan kami tidak bisa tepat waktu sampai di rumah si adek jam 7 pas, yang jelas aku gak ingin menyalahkan siapapun, dan juga tak ingin disalahkan tentunya hehe…

Pulang dari salon sekitar jam 6, kurang ingat, langsung sarapan, dengan sangat kilat… dan biasa, setelah sarapan langsung ada hasrat ingin melapor ke toilet :D Setelah itu dilanjutkan berpakaian lengkap jas pengantin. Setelah semua selesai berpakaian (Mamak, Bapak, Lae Timbul), dan segera ingin berangkat, Mamak tiba-tiba memunculkan ide untuk mengepak semua barang-barang untuk dimasukkan ke dalam mobil, semuanya, tanpa terkecuali…

Akhirnya setelah berjuang dalam tenggat waktu yang sangat sempit, kami pun berhasil berangkat ke rumah sang pengantin wanita tercinta :) jam 07.05, itu juga setelah Bang Alex menelepon dan mengirim SMS agar cepat-cepat datang, yang sudah selesai saja yang berangkat duluan.

Irene: Sekitar 05.00 subuh, jemputan belum datang juga. Waktu tidak boleh terbuang begitu saja, “Janji Pernikahan” kucoba hafal luar kepala. Tah karena di bawah tekanan atau alasan lain, sulit banget menghapal paragraf singkat itu. Huh, kenapa hafalan selalu begitu sulit kulakukan? Padahal kata-katanya indah dan mudah diingat.

Setelah berpakaian lengkap, kupandang diriku di cermin besar dan tetap saja merasa “Mirror, mirror hanging on the wall, who the hell is this at all?” Ngasal banget, tapi sungguh aku memang tidak suka di make-up dari dulu. Rasanya dipasang topeng berat dan lengket.


07.00 WIB
Irene: Si abang tak muncul juga di rumah. Padahal janjinya datang lebih awal untuk menjemput ke Gereja, dan sekarang sudah cukup terlambat. Kepala terasa mumet ditambah omelan Bapak yang menanyakan “kenapa begini” dan “kenapa begitu”.

Aku mengenal Bapak sangat dekat, karena sifatnya menurun padaku. Setiap keterlambatan menyebabkan kegelisahan tingkat tinggi, sampai-sampai pikiran tidak bisa berkoordinasi dengan organ tubuh lainnya. Di situasi gelisah ini, aku lebih memilih diam daripada menlipatgandakan kekhawatirannya. Kujawab singkat “Pak, aku pun tidak ingin ini terjadi”. Masa’ aku harus ikut cerewet dan mondar-mandir heboh sementara nih konde sudah cukup membuatku sakit kepala.

Setelah tepekur beberapa puluh menit, berusaha tidak memikirkan apa-apa, si abang menunjukkan mukanya. “Hm… coba ini bukan hari pernikahanku. Grrr… Hehhhh… (tarik nafas)”. Untung aku masih ingat ini hari pernikahan. Once in a life time. Sekelebat kata Mas Diyan lewat di kepalaku “Semua hal buruk yang terjadi menjelang dan pada hari H, itu ga penting!!! Tersenyumlah…”


07.30
Naik mobil menuju GBKP Ketaren
Irene: Aku dag-dig-dug luar biasa, bukan karena mau menikah tapi karena hapalan janji pernikahan belum tuntas. Setelah diulang-ulang rasanya udah OK. Apalagi abang janji kasih contekan nanti di depan. Hehehe… emang bisa ya bang?

Di tengah-tengah celotehan hapalanku, si abang nyeletuk dalam bahasa sandi yang artinya “Dek, kok mobilnya tidak seindah yang kita bayangkan?”. Aku langsung melotot. Huss, jangan masalahin hal-hal kecil gitu ah sekarang.

Daniel: Dek, ini janjinya… Saya, Daniel Panghihutan Malau, mengambil engkau Irene Santi Br Bukit sebagai istriku, dan dengan ini berjanji menerima engkau dalam senang maupun susah, dalam sehat maupun sakit, dalam suka maupun duka. Saya berjanji untuk menjaga kekudusan pernikahan kita sampai Tuhan memisahkan kita melalui kematian. Masih ingat kan? Hehehe… :D


08.15
Mengucapkan janji pernikahan
Irene: Wow, si abang lancar banget hafalannya, dengan ekspresi yang sudah dilatih dan… top banget dah. Kekaguman itu membuatku makin gelagapan. Tiba giliranku kucoba kosentrasi, tarik napas dan blaaaah… aku lupa semua. Terbata di awal, tapi akhirnya lancar. Syukurlah sudah usai.

Daniel: Duh, si adek grogi banget, sampe-sampe Janji Suci-nya terpotong di tengah jalan hehe… di sini lah aku benar-benar merasa bahwa pemberkatan pernikahan ini sangatlah sakral… dan setelah semua selesai baru aku sadari bahwa acara adat itu benar-benar jauh maknanya dibanding acara di gereja.


11.00
Berfoto bersama
Irene: Aku senang melihat wajah-wajah temanku dan teman abang yang sudah kukenal. Betapa mereka berusaha datang pagi-pagi untuk kami. Thanks ya…

Foto bersama teman-teman pengantin
Dari kiri ke kanan: Withri, Farida, Rahel, Marison, Daniel, Irene, Sahala, Brando, Esra, Jhonson, Bernand


11.15
“Irene Susanti” Momento
Irene: Subjudul ini benar-benar terjadi saat kata sambutan. Bapauda menyebutkan “Terima kasih untuk kedatangan saudara-saudari di tempat ini di pernikahan Daniel Panghihutan Malau dan Irene Susanti Br. Bukit.”

Irene Susanti
Si Bapauda dengan celoteh “Irene Susanti”-nya :D

Kami berdua langsung tertawa cekikikan mendengar itu. Tau deh, apa ada yang sadar nggak dengan sebutan baru itu.


11.30
Berganti kostum menjadi baju adat karo yang merah meriah.
Irene: Dengan bantuan tiga teman-teman yang menamai diri trio kwek-kwek (Withri, Farida dan Rahel), aku berganti baju di kamar mandi kecil yang beraroma tak sedap. Bagusan kebaya merahnya dibandingkan putihnya, demikian beberapa orang berkomentar.

Irene Dirias oleh Kila
Si Kila sedang merias di ruang bagian belakang gereja.

Outfit adat karo sudah lengkap, kami pun berjalan ke menuju mobil. Ya ampun, susahnya memasukkan tudung (topi adat) tinggi itu ke dalam sedan BMW. Begitu sukses, mendadak ada gerakan membuka di bagian belakang punggungku “Greeet…”. Ya ampun retsleting kamisolnya terbuka lebar. Kupikir hanya terbuka biasa, taunya rusak berat. Mengorbankan darah dari jari Withri, retsleting itu hanya berhasil diberi peniti dan bagian atasnya tetap terbuka.

Bayangkan, aku pun nekat mengajak semuanya tetap ke tempat pesta. Karena kami yakin, semua orang sudah menunggu di sana dari tadi. Apalagi ini hampir jam makan siang.

Daniel: si Kila memang benar-benar profesional, dia dengan ligat dan tangkas memasangkan baju adat karo khusus pengantin pria ke badanku… cakep, tapi gelang kuningannya sedikit melukai kulitku… habis udah lama banget, jadi ada bagian yang tajam yang pada saat dipasangkan menggores pergelangan tangan kananku. Sakit, tapi harus ditahan :D


11.50
Irene: Bersimbah keringat, kami tiba di tempat pesta “Jambur Lige”. Si abang kuminta memegangi punggungku untuk menutupi bagian kamisol yang terbuka. Kelihatannya sih romantis banget, padahal kami greget setengah mati, mana kamera semua dihadapkan ke kami dan tahu nggak? Ada acara penyambutan untuk kami. Gile, ini di luar rencana. Semoga saja bagian terbuka itu tidak ditangkap kamera.

Mamak langsung gesit mencari jalan keluar. Pertama dia meminta Bang Jefri (suami kakak) untuk mengantar dia ke pasar mencari benang yang warnanya persis dengan kebayaku (dengan pakaian adat lengkap). Kedua, tiba di Jambur dia langsung menyuruh kak Lestari membantuku menjahit kamisol itu permanen, habis acaranya juga sampai sore nanti.

Setengah jam berjibaku dengan jarum dan benang, Kak Lestari sukses menjahitnya. Thanks Sis. Ternyata ketenangan sangat dibutuhkan di tengah-tengah kepanikan.


12.00
Disuruh tampil untuk menyanyi dan menari
Irene: Sebenarnya, kami sudah menanyakan beberapa orang akan ada-tidaknya bagian ini. Dan semua orang yang kami tanya menjawab dengan positif “tidak ada”. Maka dengan PD nya kami tidak mempersiapkan diri sedikit pun. Walhasil, kami merasa sangat dikerjain oleh MC ketika dipaksa ke depan untuk itu. Kami berdua terayu juga ketika si MC berbisik “Tar dapat sebulan gaji loh, nyesel loh kalo nggak mau”. Awalnya nggak ngerti, tapi setelah mengerti langsung deh kami maju, hehehe…

Menari dan Menyanyi
Adegan menari, nyanyian oleh Kak Lestari Bukit.

Sebenarnya kami tidak menyanyi apa-apa, satu lagu pun tidak, karena apalah kami ini tanpa sebuah persiapan, suara pas-pasan, tarian apa lagi. Tahu-tahunya, banyak orang ke depan menyalamkan uang pada kami. Cie… jelek-jelek gini ada juga yang menyumbang. Kasian kali ya melihat kami…

Sst, kemaren melihat rekaman tariannya, kami langsung malu dan menge-skip-nya.

Pestanya secara keseluruhan berjalan lancar, meskipun tukang foto sempat menghilang di tengah acara dan tidak memfoto hampir semua acara adat. Tapi seperti yang sudah dijanjikan dalam hati, “semua nggak penting” membuat keadaan hati tetap tenang. Adat Karo dan Adat Batak berjalan dengan baik. Kekhawatiran akan adanya perbedaan sudah tidak ada lagi. Terpujilah Tuhan atas segala sesuatunya.

Ada benarnya temanku pernah mengatakan “Sebenarnya pesta pernikahan secara adat itu untuk kebahagiaan orang tuamu, bukan untuk kebahagiaan pengantin”. Aku merasakannya, tapi aku tetap berbahagia melihat ortu dan mertua bahagia. Terlebih untuk satu momen yang hampir membuatku menangis, beberapa temanku menyempatkan hadir di Gereja dan menyanyikan lagu “If We Hold On Together”-nya Diana Ross untuk kami.

Saat menulis ini aku mendengarkannya lagi dan aku masih ingin menangis. Love you guys. Mungkin, tanpa lagu itu aku tidak merasa pernikahan ini untukku. Tapi ketika kalian melangkah ke depan, aku tahu aku sangat berhak dan memang seharusnya sangat bahagia saat itu. Tahukah kalian air mataku sudah di pelupuk saat itu.


MOMEN PALING…
Paling mengharukan: Saat Lagu “If We Hold on Together” dinyanyikan.
Paling sulit dilupakan: Retsleting kamisol rusak.
Paling lucu: “Irene Susanti” Momento.
Paling pusing: Penantian akan kedatangan Abang pagi itu.
Paling melelahkan: Menuju Medan setelah pernikahan.
Paling asik: Berfoto dengan hape. Pengantin bisa foto-foto sendiri pake hape, kapan tu bisa terjadi?
Paling senang: Teman-teman kantor datang, ditambah teman-teman yang sedang pulang ke Medan.
Paling kaget: Kejutan penyambutan pengantin.


UCAPAN TERIMA KASIH

Dari Irene
Kepada:
Family Crew: Ortu-Mertua, Kakak-Abang, Amang Bao-Eda, dan jajarannya.
———-
Withri Saragih
Withri Saragih: atas darah yang sudah menetes, setiap doa dan bantuan, sharing yang tidak habis-habisnya. Tetap berjuang!
———-
Lasma dan Tomi
Lasma dan Tomi: Maaf menambah kelelahan setelah “Tour de Tele” kalian, hihihi. Kan aku duluan yang mem-booking.
———-
Esra Ginting
Esra: Untuk bantuan, foto dan hadirnya dirimu sampai sore itu.
———-
Farida
Farida: Menantu ideal dan penasehat yang sangat baik.
———-
Rahel
Rahel: Adek KKP yang cantique dan baik mau datang ke pernikahanku…
———-
Brando Saragih
Brando Saragih: Apalah arti seorang Brando kalau tanpa nyanyian yang indah, hehehe… becanda Bran…
———-
Bernand Situmorang
Bang Beno: Bang, sungguh tak diduga dirimu datang. Senang melihatmu di sana.
———-
Jhonson
Jhonson: Ah, kau memang teman yang sangat baik, selalu hadir.
———-
Teman-teman dengan papan bunga: Cio Cilinggem Crew, Rere, David Mondru, Alumni PMK-STAN, dst.
———-
Semua yang sudah datang: Teman-teman Kantor, teman-teman SMA, Bigking, Sandro dan pasangannya Lina, Cio Cillinggem, dst.

Dari Daniel
Kepada:
Keluarga Besar Malau dan Keluarga Besar Bukit: Bapak, Mamak, Mama, Mami, Kakak, Abang, Adik, dan Lae-lae.
———-
Novrendi Saragih
Novrendi Saragih: Lae-ku yang satu ini sudah jadi panutan banyak orang khususnya teman-teman seperjuangannya dulu di Mesin ITB, thanks Lae!
———-
Sahala Silalahi
Sahala Silalahi: Halo, Tulang! Kecil-kecil gini tapi dia Tulang aku loh, repot juga ngundang Tulang yang satu ini, sampe setengah jam aku memohon-mohon supaya dia mau datang ke pesta kami, akhirnya dia mau datang juga, padahal dari Riau, wuih… mantaplah Tulang, mentang-mentang udah kerja di Schlumberger (baca: slambersi) ya :p Btw, thanks for your coming.
———-
Marison Sitorus
Marison Sitorus: teman satu SMA di SMUNSA Kelas III IPA 1, teman satu persaingan di kelas dan bimbel Medica tahun 1998, guru pribadi khusus matematika, jagonya masalah Limit, akar kuadrat, integral, dan kalkulus, makasih bro atas kehadiranmu yang tak terduga sebelumnya, habis aku lupa mengundang dirimu :D , tapi pas sebelum hari H waktu di Medan aku ketemu sama Arthauli & Nancy Haro dan mereka kasih info bahwa kau akan datang… :D thanks ya, Son!
———-
Tomi dan Lasma: senang punya teman sekaligus adik seperti kalian, sangat setia dan mau berlelah ria demi kami :D
———-
Withri Saragih: thanks for everything ya… buat semuanya silahkan kunjungi situsnya di http://withri.multiply.com :)
———-
Esra, Farida, Rahel, Brando, Bernand, Jhonson: makasih buat dukungan dan kedatangan kalian semua… zaman sekarang sangat sulit untuk mendapatkan teman-teman seperti kalian.
———-
Pemberi Papan Bunga: Cio Cilinggem Crew, Rere, David Mondru, Alumni PMK-STAN, dst.
———-
Dan akhirnya buat semua tamu dan undangan yang telah hadir pada acara pesta pernikahan kami.

10 Responses to “Laporan Pandangan Mata”

  1. Tommy Says:

    Wow . . . . . .

    Dramatis Banget ternyata pada Hari – H nya yah???

    Duhh maaf buat kakak dengan abang, kami tidak bisa mengikuti acara pemberkatan di GRJ saat itu, sebenarnya jarak kurang lebih ± 500 M dari GKBP Ketaren.

    Berhubung sebelumnya kami Tour de PaToPaLe (PaRapat, ToMok, PanGuRuRan, Tele) Capek Gila, Ga Kuat untuk Bangun Pagi. Mana KabanJahe Duiingginnn Banget, kita ngomong serasa ngerokok karena ada kebulan asap. Hehehe

    Jadinya kita ketemu di Jambur Lige (oia, lige itu apa kak, bang?)

    Kami Doain Pernikahannya Langgeng ya. Selalu dilindungi ama Tuhan, Amien.

    Melihat pernikahan Kakak dan Abang yang begitu bahagia. Adalah secercah Harapan untuk bisa seperti kalian. Semoga kebahagiaan kalian segera menuyusul pada kami. Hehehehe.

  2. BRy Says:

    ampun deh kak bang, ribet abis

    congrats buat kalian yah…

    trus kalo gak ada nyanyinya gw gak ada artinya yah

    hiks… hiks…

  3. irene Says:

    mau aja si brando percaya dengan perkataan sia-sia itu… Kau berharga Bran, terutama di mata Tuhan (di mata dan hati kami juga). Selamat weekend…

  4. poncho Says:

    ka Irene.. selamat yak buat pernikahannya ^_^ smoga jd kado terindah buat ka irene dan abang-nya ka irene (he3x).. maaf yak telat, aku tau dari bang eka,, salam dr tmn2 di palembang.. Gbu!

  5. nat2 Says:

    iih kakak dan abang ….
    ceritanya menyentuh ….
    jadi pengin..he..he….

    Semoga perjalanan kehidupan kalian berdua bertambah membahagiakan ya hari demi hari …..

  6. rihard Says:

    wah,,,keren banget“`smua nya…
    katany dah dapet yah yang k Jepang???
    seneng nya,,,kado pernikahan,k Jepang,,,bedua pulak itu,,,
    congrats yah k…GB

  7. wittyme Says:

    Huaaaaaaaa…aku terharuuu!mataku berkaca kaca!nafasku tersengal! (HALAH!Ngapain sih gw sbnrnya…huehehehehe…)

    so many points to say:
    1. nice story,Ren… Aku jd bs bnyk belajar… Got some tips&tricks! Terutama PAY ATTENTION ON YOUR BUSTIER!^_^

    2. Adat utk kita jg kok,Ren. Tdk scr langsung. Krn dgn bjalan nya adat, kita tau kalo kita bs membahagiakan ortu yg telah mbesarkan kita… Itu sebabnya aku kekeuh ke DaTar “hrs mjalankan adat”… Pemberkatan milik kita, adat milik orangtua…

    3. Wedding vow nya bhs Indo ya? Sori,kmrn ga denger. Kita latihan nyanyi mulu diluar.hehe…

    4. Hey,that’s definitely OK for having make up… Tp kalo make up nya bagus… Hehehehe…

    5. Aku mau banget kalian datang dan nyanyi lagu “If We Hold On” itu di nikahan kuw… (huaaaaaa…kyknya pesimis deh…huhuhuhu…)
    That was my greatest momento too at ur wedding… Suaraku aja ampe ber vibra gt kan..hehe… Kata2nya yg dlm bgt plus liat kalian berdua YANG AKHIRNYA BERSATU…. Ga ada yg bs ngalahin deh moment itu… (kok blm ada ya foto pas nyanyi ini…pengen tau tampangku gmn… Hehehe…)

    6. A li’l blood shed means nothing compare to you both happiness… Glad to help u both… Happy to see your smile…
    And I know, somehow someway, I will have you two too supporting me&datar in our next project… Hehehe… Love u,Ren… Love u,Bang Dani…

  8. irene Says:

    Wit, aku terharu membaca komen mu… huhuhu

  9. icha Says:

    seneng, akhirnya nemu jg gambar pernikahan orang karo. jadi ak bisa liatin ketemen2 kalo nanti pas hari H-nya ak akan pake baju sperti itu.
    aku dah bisa ngebayangin, repotnya nanti ak karena akhir juli akan melangsungkan pernikahanQ di jakarta.
    Selamat berbahagia ya abang & kakak.begitulah orang karo, demi adat rela repottttttttttt

  10. Irene Says:

    Terima kasih Icha…
    Repotnya sih pasti, tapi seneng juga kok.

    Selamat mempersiapkan pernikahan ya.

Leave a Reply

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in