Postingan ini adalah bagian yang terlupa padahal termasuk terpenting, penting banget malah. Kami pun baru merasakannya setelah mengikutinya.
Biasanya konsultan pernikahan menyediakan jasa ini. Kami sendiri memperoleh pembinaan pra nikah dari gereja (GKI Bintaro). Kebetulan sekali pihak gereja menyediakannya untuk pasangan-pasangan yang ingin menikah dalam waktu dekat. Pembinaan ini diadakan dalam 7 kali tatap muka. Pertemuan awal dibawa oleh Pendeta dengan bahan seputar “Pandangan Alkitabiah tentang pernikahan”, “Konflik-konflik umum pernikahan dan solusinya” dst.
Pembinaan yang kami ikuti dipimpin oleh Pak Pendeta Luther Tarlim Samara dan tentu saja kami sangat senang mengikutinya (apalagi gretong bow). Padahal pertemuan ini diadakan Selasa malam sepulang kerja. Semula kukira si abang akan tertidur sepanjang acara, tapi ternyata dia mengikutinya dengan baik. Ide ikut bina pra nikah ini dari aku, meskipun saat itu kami belum merencanakan tanggal pernikahan.
Pertemuan-pertemuan akhir kami dipertemukan dengan pakar keuangan dan dokter. Paling tidak ketakutan tentang “rahim, malam pertama, penyakit, reproduksi, dkk” bisa teratasi. Konsultasi keuangan juga menyadarkan kami, bahwa di hari depan kami pasti diperhadapkan dengan pilihan untuk membantu atau tidak membantu keluarga besar kami. Kapan dan bagaimana kondisi yang memungkinkannya.
Hal mendasar yang kutahu dari bina pra nikah ini adalah “apakah kami cocok satu sama lain dan tidak ada perbedaan mendasar”. Bayangkanlah jika kita berdua berbeda pendapat tentang bagaimana menempatkan keluarga lain dalam keluarga kita, bisa berabe. Kata Pak Pendeta, beberapa pasangan memutuskan untuk berpisah karena tahu mereka berbeda. Ada yang berbeda dalam hal “bagaiamana menjalankan ekonomi keluarga” dsb.
Jika tahap pengenalan pasangan sudah baik, memang bina pra nikah tidak terlalu nge-efek, tapi sangat bagus untuk diikuti sebagai introspeksi diri. Seperti, aku menyadari keegoisanku sebegitu besar, hihihi
Karena seringkali kita tidak menyadari sebuah masalah kecil bisa merusak keluarga yang kita bentuk kelak.
Satu diskusi alot yang kami ikuti adalah diskusi adat. Kebetulan pasangan-pasangan di pembinaan kami banyak yang berbeda adat. Benar saja, perbedaan itu bisa merusak semua padahal kan pesta pernikahan hanya sehari sementara keluarga kita untuk bertahun-tahun. So, what’s a big deal about that? Tar juga pasti tahu deh kenapa masalah itu sangat mengganggu.
March 23rd, 2008 at 7:43 pm
Actually . I don’t Know what you’re talking about.
March 24th, 2008 at 8:46 am
Hem… bagian mana yah yang gak ngerti? apa gak ngerti bahasa indonesia? Tapi koneksinya make Speedy kok, apa Diana bule yang tinggal di Indonesia ya?
April 20th, 2009 at 4:50 pm
Wah nikahnya pakai adat karo ya lae/silih?
btw Pdt.Luther Tarlim Samara adalah kakak sepupuku..kalo istilahnya batak mungkin abang kali ya (anaknya namboru/bibi)….
Salam kenal ya lae/silih
March 23rd, 2010 at 12:05 pm
wah,,, pembahasannya sangat memberkati banget..
mw nanya nich,,
ada kasus.. seorang kristen yang sudah cerai trus mw nikah lagi.. apa pendapat anda tentang hal tersebut dan jika di kaitkan dengan budaya barat(amerika)dengan alkitabia..
makasi..
aku tunggu jawabannya..
GBU..