Setahun menikah, kami pun harus berpisah.
Nagoya, 30 Januari 2009
For A man I call Husband
Kalau dihitung-hitung, kita sudah menikah setahun dua minggu ketika kita berpisah minggu lalu. Keputusan ini bukanlah keputusan sepihak yang kubuat sendiri. Ketika keputusan ini kuambil sebelum menikah, aku telah meminta pertimbangan, apa yang harus kulakukan. Aku, saat itu, tahu benar kalau berpisah itu sungguh tak enak, terlebih ketika dulu aku pernah gagal dengan hubungan jarak jauh. Tapi ketika ijin sudah kukantongi aku pun akhirnya memilih jalan ini, merantau ke negeri orang seorang diri.
Aku mengerti ketika tiba di sini, perasaanku sulit digambarkan. Shock dengan keadaan baru, jenis makanan baru, homesick berlebihan, dan tekanan ujian yang segera harus kuhadapi. Pagi hari, ketika terbangun, aku masih terkejut memandang sekitarku “aku dimana?”, “kemana abang?”, “kemana tv yang ada di depanku?” dan seribu pertanyaan mendadak. Siang hari, aku memandang kampus yang masih asing sambil menggumam dalam hati, inilah kampus yang akan kuakrabi selama dua tahun lebih. Akankah aku betah? Malam hari, homesick semakin terasa. Biasanya malam hari, aku diselimuti si abang tidur dan memandangku sebelum tidur. Aku benar-benar menginginkan suasana itu dan apa boleh buat, pilihan itu sudah kutinggalkan. Berat.
Sampai minggu kedua ini, aku belum bisa mengatasi rasa ini sepenuhnya. Ketika chatting aku masih suka menangis, ketika tidak kutemukan si abang online, aku pun suka bete sendiri dan ujung-ujungnya nangis lagi. Ah, sangat kekanakan.
Merantau ke negeri orang lebih sulit ketimbang dulu aku merantau ke Jakarta. Di Jakarta, seminggu pertama aku hanya menyesuaikan logat dan suasana, dimana sampai sekarang logatku sudah berubah, tapi bukan menjadi logat Jakarta tapi menjadi logat batak tulen (padahal dulu aku karo habis). Menangis hanya terjadi pada hari pertama, kedua dan ketiga. Setelah itu semua baik-baik saja. Mudah dan singkat.
Malam memang menjadi bagian terberat setiap harinya, meskipun sebenarnya semuanya berat. Hal yang paling menyenangkan adalah saat aku membuka internet dan mencoba menghubungi suami dari skype atau dari gtalk atau YM. Hidup seperti kembali ke Indonesia, berada di kamar bercakap-cakap sebelum tidur.
Dunia lumayan adil. Setiap pilihan punya konsekuensinya masing-masing. Pilihan yang kuambil ini tidaklah mudah. Ada proses yang ditawarkan, proses pembelajaran formal dan non formal. Aku sempat lupa rasanya mandiri, berjuang dan menghadapi tantangan. Sekarang aku diingatkan kembali betapa rasa itu tidak nyaman tapi sanggup membentuk pribadi ke arah lebih baik.
Ini hanya satu tahap yang menghabiskan bagian kecil hidupku. Semua akan baik-baik saja bang, meskipun aku banyak menangis sekarang. Ya, semua akan baik-baik saja. Aku janji.
NB. Aku masih menangis bang menulis cerita ini.
January 30th, 2009 at 11:11 am
Sabar ya dek… 2 tahun itu sebentar kok, yang penting kejar IP setinggi-tingginya
Kan demi cita-cita dan masa depan hehe…
January 30th, 2009 at 11:40 am
tapi abang juga ya… kan janji berusaha buat beasiswanya. Adek juga mau kok kalo ke amrik, hehehe… tapi kalo ga bisa ikut, sedih juga euy
January 30th, 2009 at 7:52 pm
Sori nimbrung. Tapi males banget kalo saya harus pisah ama istri (& anak) kayak begini. Ngga perduli mo dapet IP bagus apa kagak hehehe.
Good luck, mudah-mudahan bisa dapet pelajaran berharga.
February 2nd, 2009 at 9:41 am
@Robin:
Iya sih, terasa memang berpisah ga enak, padahal masih di awal-awal. Semoga IP pun baek2 aja ntar.
March 12th, 2009 at 11:06 pm
asyiek yoe,,,,,,,,
gmn sich,, cr nya bg donk……..!
q jg pengen dapat hub sperti
abg and kaka…….
add balik,,,,,,,,,,,,,,,,,,,