Dunia Keegoisanku

Journey No Comments »

Aku ingin membawa suamiku ke Jepang, meninggalkan semua kewajibannya sebagai seorang PNS di dunia ilmiah dan peneliti. Membiayai semua biaya hidupnya. Setiap hari dia bisa menggunakan koneksi internet sesuka hatinya asal di berada di sampingku menemaniku.

Di saat liburan tiba, aku tidak perlu kembali ke Indonesia karena orang yang kutuju ada di sampingku. Buat apa pusing dan buang uang. Kami bisa berjalan mengelilingi negeri Sakura dan mengkoleksi foto-foto berdua yang penuh kenarsisan. :)

Setelah aku lulus, aku akan mengembalikannya ke kantornya dan meminta maaf atas dua tahun kevakuman suamiku dalam penelitiannya. Dan tentu saja bos dan staf mengerti semua alasanku, ya karena kami suami isteri yang tidak terpisahkan.

Yap… Egois, karena itu hanya ada dalam dunia yang berisi kehendakku saja. Dunia Keegoisanku.

What I Know about My Husband (1)

Journey No Comments »

Terinspirasi kebiasaan suamiku menonton kukis (kumpulan kisah-kisah manis) di salah satu televisi swasta di tanah air, aku ingin mengungkapkan sejauh apa aku mengenal dia.

KUKIS OH KUKIS

Suamiku pernah bilang kalau cowok perlu belajar romantis dari film-film dan kukis. Nah lo… Tapi katanya kukis bisa membantu para lelaki memahami wanita dan belajar banyak dari kisah itu. Terdengar klise bukan? Tapi itu suatu kebenaran untuk suamiku.

Bagi dia, kegiatan malam yang tidak bisa dilewatkan adalah nonton kukis. Kalau lagi chat dia hanya menjawab singkat-singkat seperti: hahaha, o gitu, iya, udah, oh dst., maka bisa dipastikan dia sedang menonton tayangan itu dengan serius. Tunggulah kira-kira berapa menit kemudian, saat-saat iklan, dia kembali menjawab chatnya dengan panjang. Padahal aku sendiri, sebagai seorang perempuan yang biasanya suka sinetron, kurang bisa mengikutinya karena jam tayangnya yang panjang.

Itu pengetahuan baru bagiku yang harus kupahami juga. Dulu aku tinggal tidur dia selagi menonton, karena aku mudah tidur. Suamiku memang unik. Satu lagi yang harus kuketahui, ketika statusnya “idle” di jam-jam tengah malam. Itu artinya dia sedang serius menonton atau malah tertidur di depan TV, lupa mematikannya kadang bahkan sampai pagi.

Semua akan Baik-baik Saja

Journey 5 Comments »

Setahun menikah, kami pun harus berpisah.

Nagoya, 30 Januari 2009

For A man I call Husband

Kalau dihitung-hitung, kita sudah menikah setahun dua minggu ketika kita berpisah minggu lalu. Keputusan ini bukanlah keputusan sepihak yang kubuat sendiri. Ketika keputusan ini kuambil sebelum menikah, aku telah meminta pertimbangan, apa yang harus kulakukan. Aku, saat itu, tahu benar kalau berpisah itu sungguh tak enak, terlebih ketika dulu aku pernah gagal dengan hubungan jarak jauh. Tapi ketika ijin sudah kukantongi aku pun akhirnya memilih jalan ini, merantau ke negeri orang seorang diri.

Aku mengerti ketika tiba di sini, perasaanku sulit digambarkan. Shock dengan keadaan baru, jenis makanan baru, homesick berlebihan, dan tekanan ujian yang segera harus kuhadapi. Pagi hari, ketika terbangun, aku masih terkejut memandang sekitarku “aku dimana?”, “kemana abang?”, “kemana tv yang ada di depanku?” dan seribu pertanyaan mendadak. Siang hari, aku memandang kampus yang masih asing sambil menggumam dalam hati, inilah kampus yang akan kuakrabi selama dua tahun lebih. Akankah aku betah? Malam hari, homesick semakin terasa. Biasanya malam hari, aku diselimuti si abang tidur dan memandangku sebelum tidur. Aku benar-benar menginginkan suasana itu dan apa boleh buat, pilihan itu sudah kutinggalkan. Berat.

Sampai minggu kedua ini, aku belum bisa mengatasi rasa ini sepenuhnya. Ketika chatting aku masih suka menangis, ketika tidak kutemukan si abang online, aku pun suka bete sendiri dan ujung-ujungnya nangis lagi. Ah, sangat kekanakan.

Merantau ke negeri orang lebih sulit ketimbang dulu aku merantau ke Jakarta. Di Jakarta, seminggu pertama aku hanya menyesuaikan logat dan suasana, dimana sampai sekarang logatku sudah berubah, tapi bukan menjadi logat Jakarta tapi menjadi logat batak tulen (padahal dulu aku karo habis). Menangis hanya terjadi pada hari pertama, kedua dan ketiga. Setelah itu semua baik-baik saja. Mudah dan singkat.

Malam memang menjadi bagian terberat setiap harinya, meskipun sebenarnya semuanya berat. Hal yang paling menyenangkan adalah saat aku membuka internet dan mencoba menghubungi suami dari skype atau dari gtalk atau YM. Hidup seperti kembali ke Indonesia, berada di kamar bercakap-cakap sebelum tidur.

Dunia lumayan adil. Setiap pilihan punya konsekuensinya masing-masing. Pilihan yang kuambil ini tidaklah mudah. Ada proses yang ditawarkan, proses pembelajaran formal dan non formal. Aku sempat lupa rasanya mandiri, berjuang dan menghadapi tantangan. Sekarang aku diingatkan kembali betapa rasa itu tidak nyaman tapi sanggup membentuk pribadi ke arah lebih baik.

Ini hanya satu tahap yang menghabiskan bagian kecil hidupku. Semua akan baik-baik saja bang, meskipun aku banyak menangis sekarang. Ya, semua akan baik-baik saja. Aku janji.

NB. Aku masih menangis bang menulis cerita ini.

Lirik Lagu: Trio Lamtama – Anak Medan

Journey 2 Comments »

Walaupun ada yang sebel sama lagu batak, tapi aku sebagai orang batak tetap bangga dengan budaya batak. :D

Berikut ini aku persembahkan lirik lagu yang telah menyertai aku dan istriku di pesta pernikahan kami Desember 2007 lalu. Lagu ini sangat populer bagi kalangan orang medan, bahkan di pesta kami sampai di-request beberapa kali, lupa persisnya, ada 5-10 kali kalau tidak salah. Itulah asal-usulnya sampai lagu ini bahkan menjadi salah satu lagu kesukaan kami berdua. Hehehe…

————-

Anak Medan
oleh: Trio Lamtama

Anak medan, Anak medan, Anak medan do au, kawan
Modal pergaulan boido mangolu au,
Tarlobi dipenampilan main cantik do au, kawan
Sonang manang susah happy do diau,

Nang pe 51, solot di gontinghi,
Siap bela kawan berpartisipasi,
378 Sattabi majo disi,
Ada harga diri mengantisipasi

Reff:
Horas… Pohon pinang tumbuh sendiri
Horas… Tumbuhlah menantang awan
Horas… Biar kambing di kampung sendiri
Horas… Tapi banteng di perantauan

Anak medan, Anak medan, Anak medan do au, kawan
Susah didonganku soboi tarbereng au
Titik darah penghabisan ai rela do au, kawan
Hansur demi kawan, ido au kawan

Honeymoon?

Journey, Photos 10 Comments »

Bukit Gundaling Travelling

Sepertinya tidak bisa disebut honeymoon. Honeyday saja tidak layak sebagai sebutannya.

BERASTAGI, 3-4 JANUARI 2008

Mencuri waktu di antara kunjungan keluarga, itulah yang kami lakukan untuk mendapatkan sedikit waktu berdua. Hari itu, Kamis 3 Januari 2008. Sepulang dari Danau Toba, kami memutuskan untuk tidak bermalam di rumah tapi mencari hotel. Maklumlah, kami tidak punya waktu untuk honeymoon sama sekali. Malam itu, Bang Lindung, Kak Erika dan pasukannya mengantarkan kami ke Brastagi. Suasana Tahun Baru terasa sekali di Brastagi. Buktinya, setiap kali menanyakan tarif kamar, mereka menyodorkan tarif peak season (baca: mahal).

Awalnya kami berencana ke Hotel Mickey House, tapi ketika mendengar tarifnya via telepon, kami menyerah. Pengunjung hotel yang satu ini memang luar biasa banyak karena fasilitas mereka yang unik. Hotel ini menyediakan sejenis taman bermain selayaknya Dufan mini. Ketika dikonfirmasi tentang kamar kosong, mereka menginformasikan bahwa hanya ada dua kamar kelas satu yang kosong. Ck, ck, ck.

Hotel pertama yang kami kunjungi adalah Hotel Sibayak yang posisinya berdekatan dengan Pasar Buah dan Gundaling, Brastagi. Tarif yang ditawarkan saat itu Rp 400 ribuan per hari, itu pun sudah termasuk diskon karena check-in malam hari. Hm… coba cari yang lain saja ah, masih kemahalan.

Hotel kedua yang kami datangi adalah Wisma Sibayak yang berlokasi tepat di depan Tugu Kol, Brastagi. Sebenarnya penginapan ini hanya wisma, bukan hotel. Namanya sama, tapi keadaan dan harga tentu berbeda. Wisma Sibayak menawarkan Rp 200 ribuan per malam. Melihat bentuk dan fasilitas penginapan, kami merasa perlu perbandingan lain. Baca lanjutannya »

Bina Pra Nikah

Journey 4 Comments »

Postingan ini adalah bagian yang terlupa padahal termasuk terpenting, penting banget malah. Kami pun baru merasakannya setelah mengikutinya.

Biasanya konsultan pernikahan menyediakan jasa ini. Kami sendiri memperoleh pembinaan pra nikah dari gereja (GKI Bintaro). Kebetulan sekali pihak gereja menyediakannya untuk pasangan-pasangan yang ingin menikah dalam waktu dekat. Pembinaan ini diadakan dalam 7 kali tatap muka. Pertemuan awal dibawa oleh Pendeta dengan bahan seputar “Pandangan Alkitabiah tentang pernikahan”, “Konflik-konflik umum pernikahan dan solusinya” dst. Baca lanjutannya »

Kebaktian Syukur Pernikahan

Journey, Photos No Comments »

GKI BINTARO UTAMA
26 Januari 2008, 11.00 WIB

Setelah sebulan berselang dari pernikahan, kami didukung oleh Jemaat Gereja (GKI) Bintaro Utama mengadakan sebuah kebaktian syukur pagi itu. Acara ini dibuat sekaligus untuk mengundang teman-teman yang belum sempat datang di acara pernikahan 29 Desember lalu.

Semakin hari kami semakin mengerti betapa kami sangat dikasihi oleh saudara, teman dan kerabat yang berada di sekeliling kami. Kebaktian Syukur juga terlaksana berkat Kasih yang besar dari Majelis dan Jemaat, padahal kami hanya partisipan di Gereja ini. Para ibu-ibu memasak secara gotong-royong untuk acara ini dan hasilnya… waaalllllaaaa… delicious nan lezato. Tak ada kata yang pas untuk mengungkapkan isi hatiku saat itu, hanya dua kata yang berhasil terucap “Terima kasih”.

Kami juga sangat berterima kasih untuk teman-teman yang sudah datang, buat
1. Pak Luther yang telah membawa kebaktiannya
2. Bapak-Ibu Majelis yang sangat pengertian, terima kasih buat segala dukungan dan doa
3. Ibu-Ibu GKI Bintaro Utama (BINTAMA) buat masakan yang enak dan syukurlah cukup buat tamu-tamu yang banyak itu
4. Natty yang sudah jadi Master of Ceremony. Senang mendengar puisimu “Hari ini tidak akan sama lagi dengan yang sebelumnya”
5. Semua teman dan Gindo-tamu-terjauh kami.

Dan singkatnya, here are the photos:

Kebaktian Syukur Pernikahan Irene & Daniel

Kebaktian Syukur Pernikahan Irene & Daniel
More Photos

Laporan Pandangan Mata

Journey 10 Comments »

Pernikahan itu indah, benarkah?

Irene: Pagi buta, kami harus bersiap. Jam 4 teng harus sudah berada di salon dan berhadapan dengan Kila (sebutan orang karo untuk suami dari saudara perempuan ayah) yang begitu ahli memegang alat-alat salonnya. Kantuk sulit dihindari, selama make-up aku setengah tidur. Dan ketika membuka mata, jreeeeeng, “Ya ampun, siapa tuh?”. Aku tidak mengenal diriku sendiri. Owh, I hate this make-up.

Daniel: ngantuk banget… tidur jam 11 bangun jam 4 pagi, padahal stamina dibutuhkan buat seharian penuh… habis bangun langsung ke salon bersama Kak Irma dan Mamak… dan wajah kecewa pun tak sanggup disembunyikan si Mamak… karena aku berjanji bahwa anak buah si Kila ada 6 orang, ternyata cuma 2 orang, dan yang satu pun sudah dibangunkan 3 kali baru datang.

Entah ini atau bukan yang menyebabkan kami tidak bisa tepat waktu sampai di rumah si adek jam 7 pas, yang jelas aku gak ingin menyalahkan siapapun, dan juga tak ingin disalahkan tentunya hehe…

Pulang dari salon sekitar jam 6, kurang ingat, langsung sarapan, dengan sangat kilat… dan biasa, setelah sarapan langsung ada hasrat ingin melapor ke toilet :D Setelah itu dilanjutkan berpakaian lengkap jas pengantin. Setelah semua selesai berpakaian (Mamak, Bapak, Lae Timbul), dan segera ingin berangkat, Mamak tiba-tiba memunculkan ide untuk mengepak semua barang-barang untuk dimasukkan ke dalam mobil, semuanya, tanpa terkecuali…

Akhirnya setelah berjuang dalam tenggat waktu yang sangat sempit, kami pun berhasil berangkat ke rumah sang pengantin wanita tercinta :) jam 07.05, itu juga setelah Bang Alex menelepon dan mengirim SMS agar cepat-cepat datang, yang sudah selesai saja yang berangkat duluan.

Irene: Sekitar 05.00 subuh, jemputan belum datang juga. Waktu tidak boleh terbuang begitu saja, “Janji Pernikahan” kucoba hafal luar kepala. Tah karena di bawah tekanan atau alasan lain, sulit banget menghapal paragraf singkat itu. Huh, kenapa hafalan selalu begitu sulit kulakukan? Padahal kata-katanya indah dan mudah diingat.

Setelah berpakaian lengkap, kupandang diriku di cermin besar dan tetap saja merasa “Mirror, mirror hanging on the wall, who the hell is this at all?” Ngasal banget, tapi sungguh aku memang tidak suka di make-up dari dulu. Rasanya dipasang topeng berat dan lengket. Baca lanjutannya »

Our Wedding Album, December 29th, 2007

Journey, Photos 24 Comments »

Setelah hampir satu bulan sejak pernikahan kami di Kabanjahe, 29 Desember 2007 yang lalu, akhirnya kami melepas album dijital ke situs ini, koleksi foto ini tidak ofisial, alias tidak berasal dari fotografer khusus pernikahan yang kami sewa pada hari H, tetapi dikumpulkan dan di-edit dari hasil jepretan kamera dijital milik saudara dan teman.

Urutan foto dibuat berdasarkan kronologis waktu yang dimulai dari acara Persikapen sampai acara adat di jambur.

Silahkan menikmati dan jangan lupa komentarnya… :-)

Persikapen, Kabanjahe, 28 Des 2007
28 Desember 2007 sore, satu hari sebelum hari H
Acara Persikapen di Kabanjahe Baca lanjutannya »

Souvenir

Journey No Comments »

Kalau cukup modal untuk membuat sendiri, tentulah lebih baik memesan khusus. Tapi jika tidak punya cukup waktu dan uang untuk berburu dan merancang souvenir cantik bisa langsung ke Pasar Jatinegara, Jalan Jatinegara Barat. Pasar Tradisionalnya loh.

Dari pertama masuk ke Pasar ini, langsung bisa kelihatan souvenir-souvenir yang terpampang. Semakin masuk ke dalam semakin banyak pula pedagang souvenir, tapi sepertinya dagangan mereka tidak ada bedanya. Sekarang terserah kemampuan menawar kita.

Jenis-jenis souvenir yang umum diperdagangkan:
1. Matches
2. Sendok/Garpu
3. Kipas
4. Mainan kunci (beragam)
5. Hiasan Kulkas (beragam)
6. Kalender kecil
7. Sisir
8. Anyaman-anyaman kecil
9. Pembuka botol dsb.

Untuk bentuk, kami tidak sempat memfotonya. Kami mengambil dua jenis souvenir kemaren: Matches dan Hiasan kulkas yang dwifungsi dengan pembuka botol.

Jadi, kalau sulit di waktu dan dana, Pasar Jatinegara solusinya. :D

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in