Honeymoon?

Journey, Photos 10 Comments »

Bukit Gundaling Travelling

Sepertinya tidak bisa disebut honeymoon. Honeyday saja tidak layak sebagai sebutannya.

BERASTAGI, 3-4 JANUARI 2008

Mencuri waktu di antara kunjungan keluarga, itulah yang kami lakukan untuk mendapatkan sedikit waktu berdua. Hari itu, Kamis 3 Januari 2008. Sepulang dari Danau Toba, kami memutuskan untuk tidak bermalam di rumah tapi mencari hotel. Maklumlah, kami tidak punya waktu untuk honeymoon sama sekali. Malam itu, Bang Lindung, Kak Erika dan pasukannya mengantarkan kami ke Brastagi. Suasana Tahun Baru terasa sekali di Brastagi. Buktinya, setiap kali menanyakan tarif kamar, mereka menyodorkan tarif peak season (baca: mahal).

Awalnya kami berencana ke Hotel Mickey House, tapi ketika mendengar tarifnya via telepon, kami menyerah. Pengunjung hotel yang satu ini memang luar biasa banyak karena fasilitas mereka yang unik. Hotel ini menyediakan sejenis taman bermain selayaknya Dufan mini. Ketika dikonfirmasi tentang kamar kosong, mereka menginformasikan bahwa hanya ada dua kamar kelas satu yang kosong. Ck, ck, ck.

Hotel pertama yang kami kunjungi adalah Hotel Sibayak yang posisinya berdekatan dengan Pasar Buah dan Gundaling, Brastagi. Tarif yang ditawarkan saat itu Rp 400 ribuan per hari, itu pun sudah termasuk diskon karena check-in malam hari. Hm… coba cari yang lain saja ah, masih kemahalan.

Hotel kedua yang kami datangi adalah Wisma Sibayak yang berlokasi tepat di depan Tugu Kol, Brastagi. Sebenarnya penginapan ini hanya wisma, bukan hotel. Namanya sama, tapi keadaan dan harga tentu berbeda. Wisma Sibayak menawarkan Rp 200 ribuan per malam. Melihat bentuk dan fasilitas penginapan, kami merasa perlu perbandingan lain. Baca lanjutannya »

Kebaktian Syukur Pernikahan

Journey, Photos No Comments »

GKI BINTARO UTAMA
26 Januari 2008, 11.00 WIB

Setelah sebulan berselang dari pernikahan, kami didukung oleh Jemaat Gereja (GKI) Bintaro Utama mengadakan sebuah kebaktian syukur pagi itu. Acara ini dibuat sekaligus untuk mengundang teman-teman yang belum sempat datang di acara pernikahan 29 Desember lalu.

Semakin hari kami semakin mengerti betapa kami sangat dikasihi oleh saudara, teman dan kerabat yang berada di sekeliling kami. Kebaktian Syukur juga terlaksana berkat Kasih yang besar dari Majelis dan Jemaat, padahal kami hanya partisipan di Gereja ini. Para ibu-ibu memasak secara gotong-royong untuk acara ini dan hasilnya… waaalllllaaaa… delicious nan lezato. Tak ada kata yang pas untuk mengungkapkan isi hatiku saat itu, hanya dua kata yang berhasil terucap “Terima kasih”.

Kami juga sangat berterima kasih untuk teman-teman yang sudah datang, buat
1. Pak Luther yang telah membawa kebaktiannya
2. Bapak-Ibu Majelis yang sangat pengertian, terima kasih buat segala dukungan dan doa
3. Ibu-Ibu GKI Bintaro Utama (BINTAMA) buat masakan yang enak dan syukurlah cukup buat tamu-tamu yang banyak itu
4. Natty yang sudah jadi Master of Ceremony. Senang mendengar puisimu “Hari ini tidak akan sama lagi dengan yang sebelumnya”
5. Semua teman dan Gindo-tamu-terjauh kami.

Dan singkatnya, here are the photos:

Kebaktian Syukur Pernikahan Irene & Daniel

Kebaktian Syukur Pernikahan Irene & Daniel
More Photos

Our Wedding Album, December 29th, 2007

Journey, Photos 24 Comments »

Setelah hampir satu bulan sejak pernikahan kami di Kabanjahe, 29 Desember 2007 yang lalu, akhirnya kami melepas album dijital ke situs ini, koleksi foto ini tidak ofisial, alias tidak berasal dari fotografer khusus pernikahan yang kami sewa pada hari H, tetapi dikumpulkan dan di-edit dari hasil jepretan kamera dijital milik saudara dan teman.

Urutan foto dibuat berdasarkan kronologis waktu yang dimulai dari acara Persikapen sampai acara adat di jambur.

Silahkan menikmati dan jangan lupa komentarnya… :-)

Persikapen, Kabanjahe, 28 Des 2007
28 Desember 2007 sore, satu hari sebelum hari H
Acara Persikapen di Kabanjahe Baca lanjutannya »

PreWedding Photos

Journey, Photos 6 Comments »

Lokasi pemotretan: CIFOR, BOGOR
Tanggal: 17 November 2007
Urutan waktu:
04.00 Berangkat dari Bintaro (perjuangan keras, mana si abang berangkat dari SERPONG jam 3.00 pagi)
06.30 Tiba di Bogor (hotel)
08.15 Sampai di CIFOR
10.00 Selesai foto-foto
11.00 Siap kembali ke Serpong
13.00 Tiba di Serpong

Thanks To: Mas Inoe (Ismurtyanto) – Fotografer
Thanks To: Mbak Yani (Raiyani) – Fotografer

Sebenarnya, foto prewed ini tidak direncanakan sebelumnya. Berawal dari pertanyaan kecil di email yang kutujukan kepada mas Inoe “Mas, apaan sih gunanya foto prewed itu?”, karena setahuku foto prewed itu menyita waktu dan uang saja, he.

Mas Inoe membalas pertanyaan itu dengan antusiasme tinggi:

Begini ceritanya…

Dulu foto pre-wedding biasa disiapkan untuk pembuatan kartu undangan, supaya orang yang diundang kenal wajah kedua calon mempelai (Ooh, itu toh tujuannya). Dalam perkembangannya, karena biasanya foto untuk undangan ‘kan nggak cuma sekali, nah foto-foto bagus yang tidak terpakai untuk undangan lalu diperbesar dan dibingkai untuk hiasan di kamar pengantin. Kemudian berkembang lagi, foto-foto yang besar diperbanyak untuk dipasang di gedung resepsi pernikahan, supaya tamu undangan yang datang nggak salah masuk lokasi resepsi. Foto-foto yang lain disimpan di album kenangan untuk diurutkan dengan momen pernikahan. (Ngerti deh sekarang)

Sekarang kan banyak orang punya situs pribadi, nah pre-wedding dan wedding fotografi selalu jadi materi yang menarik untuk ditampilkan di situ (Ini dia bagian yang membuatku sangat tertarik). Paling tidak untuk undangan yang nggak bisa dateng karena tinggal jauh (kan pernikahanku jauh banget dari kediaman sekarang). Mungkin dari situ bisa kelihatan bedanya sebelum nikah dengan sesudah nikah ya, hihihi…

Dari situlah muncul kebutuhan akan foto pranikah, atau pre-wedding. Foto pre-wedding kan dibuat secara santai dan lebih bebas. Momen yang diambil juga nggak se-sakral upacara pernikahan yang susah diulang. Foto pre-wed bisa dikreasi lebih lanjut sesuai kompromi bersama…

Kayaknya jaman sekarang pre-wed udah jadi kebutuhan.

Saranku, untuk foto pre-wedding, lebih baik dengan fotografer yang sudah kenal karena biasanya pemotretan dalam suasana yang akrab dan santai memudahkan kedua pihak untuk bekerja sama, terutama masalah calon mempelai pria. Aku beberapa kali ikut temenku motret pre-wed di Palembang, selalu cowoknya yang jadi masalah mati gaya hehehe… Itu bahaya lho, kasian ceweknya udah luwes, eh si cowoknya kaku banget. Nah, kalau yang motret sudah kenal ‘kan enjoy. Pilihan tema dan gaya juga bisa diomongin bareng, gimana?

Duh, gimana nggak tertarik, meskipun undangan sudah dicetak tapi tetap saja, aku pengen banget. Nggak perlu untuk undangan deh, buat kenang-kenangan saja.

Aku mulai gencar menanyakan si Abang apakah dia tertarik. Dengan memaparkan semua fakta yang telah diberitahu mas Inoe. Hmmm… reaksinya positif banget.

Menjelang Hari-H Pengambilan Foto Prewedding

Bayangan tentang pengambilan foto ini terlalu sempurna untuk diwujudkan. Pertama kami janjian dengan Mas Inoe harus mundur seminggu karena Mas Inoe ujian ditambah juga aku punya acara penting keluarga yang tidak bisa ditiadakan. Minggu berikutnya, kami juga tetap sulit mengatur acara, beberapa anggota keluarga mengajak kami untuk berbelanja bersama. Untunglah, nggak jadi.

Tapi bertepatan dengan hari perjanjian kami, terjadi banyak tantangan di luar dugaan. Ada pemilihan ketua ikatan alumni ITB (si calon pengantin pria tidak bisa membatalkan keterlibatannya), ada acara syukuran 7 bulanan Deasy adek kami sehingga kami jadi serba salah. Tetapi karena janji foto ini sudah jauh hari, kami pun menjatuhkan pilihan tetap ikut foto.

Berangkat pagi sekali dari Bintaro, sementara si Abang lebih pagi lagi dari Serpong untuk menjemputku, padahal semalaman kami berburu baju tanpa melihat label harga saking buru-burunya. Tentu saja kami lelah setengah mati. Kami pulang dari Bogor menaiki motor ke arah Serpong dengan kecepatan tinggi, syukurlah pemilihan ketua ikatan alumni ITB belum selesai di Serpong.

prewedding

Terima kasih buat mas Inoe yang udah jauh-jauh datang dari Palembang untuk memfoto kami. Kapan lagi gitu loh bisa menyuruh Kasi (Kepala Seksi) memfoto pre-wedding? hihihi… Terima kasih juga udah mengenalkan mbak Yani. Pengorbananmu sungguh tiada tara sampai-sampai kami bingung mau bilang apa. Intinya sih pengen bilang “Aduh, senang banget deh…”

Terima kasih juga buat mbak Yani. Fotonya bagus-bagus Mbak, mampu menyembunyikan wajah kami yang tak seberapa. Kami bisa berpose bagus juga ‘kan karena arahan mbak yang bisa membuat kami santai. Baca lanjutannya »

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in